Rabu, 22 Maret 2017

Naskah Drama PPL



Dua Kutub Yang Sama Tidak Akan Pernah Bersatu
Oleh: Novia Laras Ayuning Tias
Tokoh:
Rayanti Ahmad/Raya (Kekasih Meidi-Tunangan Iqbal)
Meidi (Kekasih Raya)
Iqbal (Tunangan Raya)
Ahmad (Ayah Raya)
Latifah (Ibu Raya)
Pengurus WO


Adegan I
Cafeteria sebuah gedung perkantoran di wilayah Jakarta dipenuhi nyawa-nyawa kelaparan di jam makan siang sedang berebut tempat duduk.
 Di pojokan tempat duduk Cafeteria terdapat seorang perempuan pemilik wajah yang cantik melambaikan tangan ke arah wanita tinggi yang ada di seberangnya dengan dibalut pakaian kantornya.
Meidi: Ray! Raya! Hey, di sini. (Raya menghampiri, kemudian duduk didepannya). Aku udah ambilin makanan buat kamu.
Raya: Terimakasih. Ada apa, Di? (lalu menyesap minuman yang telah disediakan Meidi).
Meidi: Ada apa, apanya?
Raya: Ya, ada apa kamu kemari?
Meidi: kenapa ada apa? Biasanya juga aku kemari menemui mu. (sedetik ia menghembuskan nafas, tak percaya atas yg diungkapkan Raya). Apa dia ada di sisni?
Raya: Siapa? (Matanya tak luput untuk melirik arloji yang ada di tangannya. Wajahnya gelisah.)
Meidi: Ada Apa denganmu, Hon? Siapa? Aku Tanya, apa dia ada di sini? Seharusnya kau tahu, yang kumaksud adalah CALON SUAMIMU, hahaha (Meidi tertawa sumbang).
Raya: Maaf, tadi aku tak tahu maksud kamu menanyakan Iqbal. Emmm, apa kamu datang kemari hanya untuk menanyakan itu?
Meidi: Tentu tidak. Aku merindukanmu, Hon. (seraya merentengkan tangan member pelukan).
Raya: Isssh.. Dua hari lalu, kita bertemu, di.
Meidi: Kamu gak bisa diajak romatis Raya. (hening) Raya, Kita ini apa?
Raya: (Raya mendongakkan kepalanya untuk melihat wanita yang berada dihadapannya). Aapanya? Kita ini makhluk, Meidi.
Meidi: hah… Makhluk tak berakal, kah?
Raya: kebalikan dari binatang berakal. (masih sesekali melihat ke arah jam tanannya). Aku pergi dulu, Terimakasih atas semuanya hari ini.
Meidi: Kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Hah. Raya.. Raya. (Meidi membenarkan posisi duduknya yang semula tegap menjadi senderan dan menyilankan kedua tanannya di dada).

Adegan II
Malam hari di kediaman Ahmad penuh denan berbagai pendapat tentang pelaksanaan pernikahan.
Raya: Gak usah deh segala di gedung. Rumah kita saja masih luas.
Ahmad: Ini pernikahan kamu, bagaimanapun hanya untuk satu kali. Jadi harus sepesial Rayanti. (suaranya sedikit menggeram)
Iqbal: Iya sayang, lagian aku sanggup kok untuk masalah biaya.
Raya: Justru yang namanya sepesial dan untuk satu kali, kenapa gak gunain momen sacral itu di rumah kita sendiri. (tatapannya masih datar. Tidak ada rasa sejuk di matanya).
(lalu muncul wanita pertengahan 50an membawwa baki berisikan gelas-gelas terisi minuman denan wajah tak bersahabatnya)
Latifah: Sudahlah, anak tak tahu diri ini memang tak ingin menikah. Dia berargumen seperti itu hanya untuk mengulur waktu untuk tidak menikah. Semua persiapan yang sudah kita persiapkan pun ia bantah. Ini loah itu lah. Sebenarnya kemauannya hanya untuk menunda waktu agar dia masih bisa bersenang-senang dengan pasangan lesbinya. Anak hina yang merubah sikapnya 5 tahun terakhir. (tak ada tatapan persahabatan antara ibu dan anak tersebut).
Raya: CUKUP!!! (Teriaknya seraya menebrak meja di ruanan itu). Aku ke kamar dulu. (belum selangkah, tangannya telah dicekal oleh Iqbal).
Iqbal: Tunggu, Ray. (Raya pun duduk kembali). Bu, jangan terlalu membentak
Latifa: Anak itu sudah belok, Iqbal. Calon istrimu itu sakit.
Raya: jangan bawa-bawa belok atau nggak bu. Jangan bilang kalau aku mengundur-ngundur waktu pernikahan, bu. Sama sekali tidak. ibu Cuma bisa marah, gak tahu apa yang sebenarnya.
Latifah: Apa yang sebenarnya? Kamu menjalin kasih dengan sesamamu. Anak hina itu yang sudah merubahmu. Ada laki-laki yang mencintaimu, mengapa dengan denganmu?
Ahmad: Kau tak seharusnya bisa menjalin kasih denan sesama jenismu. Agama kita tidak menganjurkan sesuatu yang seperti itu. Ayah bahkan sempat membecimu, nak.
Raya: Ya!!!! Semuanya memang membenciku. Ayah, Ibu dan Kau! Kau berpura-pura bukan? (Raya berteriak, menunjuk wajah-wajah di depannya). Kalian semua tidak tahu apa yan selama ini mungkin terjadi. Aku, aku yang selama ini menjerat Meidi dalam lubang kegelapan ini. Bukan dia.
Ahmad: Jangan melindungi anak itu di depan kami, Raya. Atau kau akan sama hina nya denan dia. (Ahmad mulai berbicara dengan nada tinggi).
Raya: Maaf, Aku permisi. (lalu ia melangkah menuju kamarnya).

Adegan III
Suasana Cafeteria di Jam makan siang tetap beratmosfer seperti biasanya. Di sana Meidi yang seperti biasanya sedang menunggu sang pujaan hati yang sedikit agak lama untuk datang. Hinga terlihatlah wanita denan rambut dicepol dengan blazer biru dongker yan melekat di tubuhnya menyampaikan kesan elegan untuk diketahui ialah Raya yang sedang ditunggunya.
Raya:  Sorry. Lama, Di.
Meidi: it’s okay, Hon.
(beberapa lama tak ada pembicaraan)
Raya: seminggu lagi aku akan menikah.
Meidi: yeah, I know. Aku tahu, Ray. So, kita apa?
Raya:  Kita tetap seperti ini, Di. Tapi, untuk beberapa waktu aku ingin kita mengambil jarak.
Meidi:  seperti ini? Aku yang akan selalu disebut hina? Aku pikir kamu lebih dewasa dari aku, Ray. Ternyata hanya umur mu saja yang lebih dari aku.
Raya: Apa maksudmu?
Meidi:  Maksud aku? Oh, ayolah, Ray. Selama ini kamu hanya menyembunyikan identitas kita sebaai oran yang memiliki permasalahan sexual. Show it. We must show what happened with us. Tunjukin, Ray. Kalau kita membutuhkan dorongan untuk ini, bukan cemoohan yang dilakukan keluargamu. Mereka tahu dengan sendirinya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seharusnya sebelum kamu membawa aku dalam hal ini kamu ceritakan tentang yan sebenarnya kamu alami. Tentang penyimpangan sexual kamu. (tak ada nada tinggi yang keluar dari ucapan Meidi, pembicaraannya lebih terkesan datar).
Raya: Meidi!! Ini Indonesia bukan Western. Orang-orang bahkan akan menganggap gila, lebih dari orang tuaku. Jadi, kau menyesal telah menjalin kasih denganku? Atau kau menyesal telah ku buat jatuh hati?
Meidi: Tidak semua orang akan beranggapan seperti itu. Jika kau menyangka aku menyesal maka jawabannya tidak. tidak sama sekali. Aku sangat-sangat mencintaimu. Malah aku menyangka kau sudah tidak mencintaiku karena mungkin kau sudah kembali ke kodratmu dengan menikah dengan seorang pria. (ia menghela nafas). Lantas aku yang mencintaimu masih tetap menerima cemoohan dari keluargamu karena kau yang memang tidak pernah menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Terutama siapa yang memulai dan mengajak untuk hubungan ini.
Raya: Kau salah, Di. Bukan aku tidak berusaha menjelaskan, aku sudah menjelaskan tentang apa yang terjadi, tentang siapa yang sebenarnya hina. Mereka tetap berangapan sama, Di. Yan mereka sangka aku hanya mencari akar masalah baru untuk mengundur waktu pernikahanku.
Meidi: Karena kau bicara diwaktu yang tidak tepat. Kau bicara seperti itu saat dalam keadaan tertekan bukan dalam keadaan santai. Jadi pantas saja seperti itu!
(tiba-tiba dari kejauhan datang seoran wanita muda dengan map ditangan)
Pengurus WO: Maaf, Bu. Saya tadi selesai bertemu dengan Pak Iqbal lalu beliau membawa saya kemari dan menyuruh saya untuk membicarakan masalah gedung dan semuanya.
(Raya melirik keaarah Meidi, ia tak enak hati karena permasalahannya belum selesai).
Meidi: Lanjutkan. Aku permisi, Ray. (kemudian Meidi pergi meningalkan Cafeteria tempat Raya bekerja).
Raya: (Raya masih menatap kepergian Meidi, sbelum akhirnya sadar ada seseorang berdiri di sampIng meja). Emmm… mari mbak, duduk. (seulas senyum terpancar dengan terpaksa)
Pengurus WO: iya, Bu. Terimakasih.
Raya: Ya. Bisa di mulai.
Pengurus WO: Baik, Bu. Jadi, tadi saya bertemu dengan bapak, dia menyarankan agar pada saat akad dilakukan di masjid At-tin, dan untuk resepsi akan dilakukan di sebuah Hotel masih di Jakarta Timur. Tapi tadi bapak menyarankan agar saya bicara langsung dengan ibu untuk persetujuannya.
Raya: Tolong batalkan, mbak. Saya ingin semuanya dilaksanakan di rumah.
Pengurus WO: Tapi, Bu. Tadi bapak bilang hanya ibu harus menyetujuinya saja.
Raya: Saya bilang batalkan. Mbak bisa kan untuk handle semua itu? Saya hanya minta di rumah.
Pengurus WO: I.. Iya baik, Bu. Kalau begitu saya permisi, Bu.
Raya: Iya, Terimakasih sebelumnya.
(Kemudian Wanita itu pergi dengan rasa sedikit takut setelah bertemu dengan klien nya).


Adegan IV

Suasana kediaman Ahmad tak seperti biasanya, penuh dengan rasa permusuhan yang tinggi. Pembicaraan mengenai pernikahan putrinya semakin membuat seisi rumah dilanda emosi.
Ahmad: Jadi, kau tetap ingin melaksanakan semuanya di rumah?
Raya: Ya. Itupun saya akan memberikan syarat sebagai keringanan untuk mempermudah kemauan saya untuk diterima anda.
Ahmad: Apa itu?
Raya: Oke, jika anda tetap ingin saya melaksanakan pernikahan denan segala kemewahan dengan gedung yang mewah maka setelah menikah saya akan tetap ‘berhubungan’ dengan Meidi. Lalu, jika anda ingin saya untuk tidak berhubungan denan Meidi, maka turuti kemauan saya sebagai anak kesayangan Anda… (Raya menggantung kata-katanya)
Ahmad: Baiklah, katakana.!
Raya: Baik… Saya tidak akan berhubungan dengan Meidi dan akan melaksanakan pernikahan, tetapi …. (ia berdehem sebentar). Tetapi tidak saat ini dan biarkan saya memilih untuk mencari calon suami sendiri. Apa anda sanggup melaksanakan syarat saya sebagai Ayah?
Iqbal: APA???? Aku mencintaimu. Aku sudah meneluarkan uang banyak untuk ini semua, Raya.
Latifah: Apa kau gila? Kau ingin membuat orangtuamu malu setenah mati dengan pembatalan pernikahan ini?
Raya: Aku hanya menyediakan pilihan. Jika kalian sanggup kalian boleh menurutiku. Jika tidak, maka saya tetap bersama Meidi. Dan lihat iqbal, apa dia ikhlas selama ini memberikan bantuan dalam rencana pernikahan ini? Hah..
Latifah: Kau anak tak tau diuntung. Sudah ada yang mau malah mengulur-ulur waktu demi pasangan sejenismu. Kurang ajar. (kemudian terdenGar suara tamparan dan diikuti suara doronan keras dari arah pintu. Meidi datan ke kediaman Ahmad).
Meidi: CUKUP!!! Saya sudah dengar dengan semua pembicaraan kalian. Saya akan tetap menjalin kasih dengan Raya. Karena Dia adalah orang yang telah merubah orientasi sexual saya. Dia yang mengajarkan saya arti dari cemoohan yang seperti angin lalu seperti yang anda lontarkan. Maka apapun yang anda lakukan terhadap kami, kami akan tetap bersatu.
Latifah: Kurang ajar. Kau anak hina, kau yang merubah anakku dank kau malah menyalahkannya? Lesbian. Kau yang membuat anakku menjadi pembangkang seperti ini.
Raya: CUKUP!! Saya sudah mengatakan bahwa saya yan telah merubahnya bukan dia. Jangan sebut dia hina di depan mata saya karena anda terlalu hina untuk menjadi Ibu.
Latifah: Kau hanya selalu membelanya. Kau kotor. Kau melenceng dari Agama, kau tak bermoral.
Ahmad: Baik. Cukup semuanya. Ayah akan menambil keputusan. Ayah akan mengizinkan kamu untuk mencari calon suami untuk kau nikahi, dank kau harus meninggalkan pasangan lesbianmu!!. (katanya penuh denan penekannan).
Iqbal: Apa? Apa semuanya telah dipikirkan matang-matang, apa keluarga kalian tidak akan malu?
Ahmad: Semua keputusan akhir ada pada Raya, saya hanya tidak mau anak saya melenceng dari aturan agama dan moral. Bagaimana, Raya?
Raya: Baiklah… saya akan meningalkan meidi dan tidak akan berhubungan denannya jika itu memang yang kalian Harapkan. Tapi asal kalian tahu, kami pun menderita. Sebenarnya kamu hanya butuh dorongan agar kami bisa hidup normal, karena jika hanya dengan cemoohan dan kekangan itu sia-sia bahkan mungkin malah berdampak buruk bagi yang mengalami.
Ahmad: Kami bukan mengekang hanya saja kami tidak ingin putrid kamu keluar dari aturan agama. Dua kutub yang sama tidak akan pernah bersatu. Dua pasan magnet dengan kutub yang sama pun akan saling menolak. Begitupun manusia. Karena Tuhan telah menciptakannya berpasang-pasangan. Laki-laki denan Perempuan, mengerti nak? Jadi keputusanmu harus kau perjelas. Karena pasanganmu bukan dengan perempuan juga.
Raya: Ya. Saya ulangi, bahwa saya akan meninggalkan Meidi dan berhenti berhubungan dengannya. Juga sebagai pengganti rasa malu keluarga, saya akan mencari calon suami sendiri, tetapi bukan dengan Iqbal.
Meidi: (Meidi terbengong dengan semua keputusan yang Raya lontarkan). Ta..tapi.. Ray, mana janjimu akan memperjuangkan hak kita? Aku mencintaimu, Ray, mana tanggung Jawabmu? Kau yang telah merubah orientasi sexualku. Ray.. Raya.. (air mata mulai merembes di pelupuk mata Meidi).
Raya: Tanggung jawabku adalah mengembalikanmu ke keadaan sebelum kita bertemu. Carilah pasanganmu. Maafkan Aku, Meidi. Aku menyayangimu. (Raya kemudian berlari menuju kamarnya dengan airmata yang menggenang mulai menetes).


--- SELESAI ---







Classical Critical Theory (Essay of Bumi Manusia)



Novia Laras Ayuning Tias
1145030133
V-D

The Humanity Values of Bumi Manusia
by Pramoedya Ananta Toer

Literature is generally divided into three groups such as prose, drama, and poetry. Literature tells us about experience of life. It will widen your knowledge and visions to understand life such as closer to other human beings with the same or different nationalities, cultures, human values. Jakop Sumadjo says that values have affective power, when it is only derived by spoken. It will be more interesting and implanted in self personality by literary work (Kaswardi, 1993:148).
Values of giving is a value that need to be practiced or provided which would then be accepted as given. Values of giving include: loyalty, trustworthy, respect, love, affection, sensitive, not egoist, kind, friendly, fair, humane (Linda and Richard Eyre, 1997).

Many people like to read the kinds of literature, one of them is prose. Prose also has varieties such as novel, short story, epic, novella, and novelette. Novel is long story that has much information. Sometimes, it is about the experiences, thinking and knowledge of the novelist. They want to transfer the value of their novel to the reader. Its messages will inspire the reader to get new spirit to life. In other words, there are many advantages of reading novel. Educational values belong to one of the advantages of reading novel. Actually, a lot of people read novel for pleasure, so readers is interested and may spend their time to read it. Therefore, novel showed be exploited to know deeper what messages hidden. Based on the explanation above, the writer is interested to analyze the novel by title Bumi Manusia. Bumi Manusia is Pramoedya Ananta Toer’s novel. It tells us about the spirit of study aboard, the story of love, religious tolerance, revolution and living in Java culture, all of them belonging to Humanity Values.

In this Novel (Bumi Manusia) Pramoedya told the condition in the 1898, The Bumi Manusia novel provided an inspiration and illustration on Indonesian situation and condition in the end of XIX century era. the main character in this novel called Minke. He was a Javanese minor royal and one of an Indonesian Journalist active in the nationalist movement. He was the first native Javanese boy who attended an elite Dutch colonial high school or HBS. Minke was a brilliant student, descendant of Javanese royalty, and an acutely sensitive observer of the complex and dangerous world around him. One day, Robert Suurhof, his friend in HBS went to his boarding school. Robert asked for accompanying him to go to Robert Mellema's house. There, Minke met the beautiful girl Annelies and he become her friend and husband too (in the last chapter). Annelies is Nyai Ontosoroh’s Daughter and also the sister of Robert Mellema. Nyai Ontosoroh is illegal wife of Mr. Herman Mellema.
Pramoedya wrote this book when he was languishing in detention on Buru island in 1975s, but only published in 1980 and received a tremendous response from readers at home and abroad, to the extent that in the one year period (1980-1981) has been reprinted 10 times. However, the attorney general, the book was banned and withdrawn from circulation for advocating Marxism-Leninism and Communism. In 2005, Buru Quartet reprinted by Lentera Dipantara and until now has been translated into 33 languages and spread around the world as a contribution to the World Indonesia. From here, Pramoedya was succeeding in his process of writing.
Criticism pragmatic view of literature as something built to achieve certain effects on the audience (listeners and readers), whether it be the effect of pleasure, and aesthetic, educational and other effects. These literary critics tend to judge a literary work by the success or failure of the work of achieving that goal. (Pradopo, 1995:26). Pragmatic, is the approach that tends the value of the work according to its success in achieving that aim. (Nurrachman, 2014:6). Pramoedya in his work Bumi Manusia succeed to present to Audience about the nationalism and tolerant of religion. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri” (Pramoedya, 2011:59). That is the Virtuous Acts.
According to Ibnu Rushd in his commentary on Aristotle (Nurrachman, 2014:107) poetry is defined as art of praise and blame, based on representation of moral choice. This statement could we apply in this analysis of Bumi Manusia. Praise could we call it as a Virtuous Act. Another aspect of Ibnu Rushd’s claim, that a virtuous aspect must be moral choice, not more habit.

Pribumi juga baik,” said Annelies. (Pramoedya, 2011:30) “Tamuku Islam,” said Annelies to her
servant. “Katakan di belakang sana, jangan sampai tercampur babi.” (Pramoedya, 2011:35). It is could be Humanity Values. Annelies as a host deserved her guest as a Muslim. These quotes contains of religious tolerance. This novel is filled of values, because this is certainly as a purpose of Pramoedya in his writing.
Apa peduli diri ini berbahagia atau tidak? Kau yang kukuatirkan. Aku ingin lihat kau
berbahagia….,” said Nyai Ontosoroh to Annelies. (Pramoedya, 2011:109)
“Jadi kau pulang juga akhirnya, Gus. Syukur kau selamat begini,” diangkatnya daguku, dipandangnya wajahku, seperti aku seorang bocah empat tahun. Dan suaranya yang lunak
menyayang, membikin aku jadi terharu. Mataku sebak berkacakaca. Inilah bundaku yang dulu
juga, bundaku sendiri. (Pramoedya, 2011:188).
Based upon such expressions the writer could says that love is not only relationship between a male and a female are like Minke and Annelies. Moreover, it could be found in relationship between parents and their children are like Nyai Ontosoroh to Annelies or Minke towards his mother. Parents and children who love each other include to humanity values because love it is any of numbers of emotions related to a sense of strong affection and attachment. “Bunda, ampuni sahaya,” kataku (Minke) mengembik, bersujud di hadapannya dan mencium lututnya. “Tak tahulah aku mengapa tiba-tiba hati diserang rindu begini pada bunda.” (Pramoedya, 2011:188) Based on such expressions above we must respect to our parents, especially our mothers, like Minke. Most parents try to do the best to your future. Pramoedya in his work give us the course about virtuous act.

This Novel also gives us the course about learning. There is no reason to stop learning. It brings advantages in the world and the hereafter. In Qur’an surah Al Mujadalah: 11:
Believers, make room in your assembles when you are bidden to do so. Allah will make room for you. Again, rise up when you are told to rise: Allah will raise to high ranks those that have faith and knowledge among you. He is cognizant of all your actions.”

“Bukan saja pandai juga baik hati. Dia yang mengajari aku segala tentang pertanian, perusahaan, pemeliharaan hewan, pekerjaan kantor. Mulamula diajari aku bahasa Melayu, kemudian membaca dan menulis, setelah itu juga bahasa Belanda. Papamu bukan hanya mengajar, dengan sabar juga menguji semua yang telah diajarkannya. Ia haruskan aku berbahasa Belanda dengannya. Kemudian diajarinya aku berurusan dengan bank, ahli-ahli hukum, aturan dagang, semua yang sekarang mulai kuajarkan juga padamu,” said Nyai Ontosoroh to Annelies. (Pramoedya, 2011:111) Diri ini sekarang segan mengapung pada permukaan. Maunya terus juga tenggelam pada dasar persoalan dalam setiap percakapan dan perbincangan. (Pramoedya, 2011:311) the writer conclude that learning knowledge is important in our life. If we are lazy, we could not face many problems in modern era. The expressions are in Minke’s effort to be a best student and Nyai ontosoroh’s spirit to learn about Dutch to increase her self esteem as a woman. From here we know that learning is like a movement of life.
Pramoedya also picked up the women revolution (Feminist movement) as a Humanity Values.
“Aku sendiri masih termanggu melihat perempuan meninggalkan dapur rumah tangga sendiri, berbaju-kerja, mencari penghidupan pada perusahaan orang, bercampur dengan pria” (Pramoedya, 2011:44)Apa pekerjaanmu sesungguhnya?” “Semua, kecuali pekerjaan kantor. Mama sendiri yang lakukan itu.” Jadi Nyai Ontosoroh melakukan pekerjaan kantor. Pekrjaan kantor macam apa yang dia bisa? “Administrasi?” tanyaku coba-coba “semua. Buku, dagang, surat-menyurat, bank …” (Pramoedya, 2011:45)  wherever, women in 1898 is never have a power to lift up their degree as a human. Women just like a thing which not worthy. But here, Pramoedya  give the different way to view of women. Nyai ontosoroh as (illegal wife), is a rare portrait of the woman in that day, there are many other women who started working, although seen as odd by age, but the housekeeper not the person who set to work to do but it was he who set up a lot of people to work. Here, Pramoedya give to us about women revolution or movement.
That’s all about praise or virtuous actions in the Novel Bumi Manusia. Humanityn values, is reflected in the characters attempt to sue disparities humanity meets, also in his efforts to restore the dignity of humanity.
            While the virtuous, Pramoedya also give us about Moral values that have the vice. Vice is blaming and denigrating base and immoral deeds. But, beside immoral, Pramoedya always give the moral choice
The Natives such a Minke powerless to oppose slavery which he said have been abolished, but still evident around. With his pen name, Max Tollenaar, he voiced his dissatisfaction, wrote his thoughts in a Dutch language newspaper. Pramoedya give an idea to the reader of the strong influence of an article at the time. Posts may provoke a riot, make people who were expelled from school regained its place, making people see a different perspective in a drama of colonial life, encouraging even more people willing to die to defend the party they think is right. Minke are educated to understand the modern way of thinking in terms of social equality, which gained respect as a person deserving of thought is that brilliant or personality marvels, not because of the position it has. Minke break the culture of respect for a label stuck on that person, even if the label reads father. The necessity of the natives to receive all the words of an older person was not accepted by him. Respect actually earn (not given) and only through good manners, intelligence and wisdom that can be obtained.
“Jadi kau sudah menghina aku, darah raja! Suami ibuku! Baik, aku takkan menjawab. Teruskan, ayoh teruskan darah raja-raja Jawa! Kemarin kau masih mantri pengairan. Sekarang mendadak jadi bupati, raja kecil. Lecutkan cambukmu, raja, kau yang tak tahu bagaimana ilmu dan pengetahuan telah memulai babak baru di bumi manusia ini!” (Pramoedya, 2011:184) Minke was monologue in his heart, he med to his father but he also has the reason. He told that his father never know how the knowledge starts the new era.
Immoral values also are showed from the story of Nyai Ontosoroh, All walks of life punish the nyai as low moral level; all the nations: indigenous, European, Chinese and Arabic. It made him a grudge not only to his father he is also a grudge against his mother, who like many other indigenous women do not have the ability to protect their children even want. He punished them with no longer regard them as parents: do not want to see them, is unwilling to read and replay the mail even when his crying mother-petulant sulk wants to see her she just told.
 “Anggaplah aku hanya sebagai telornya yang telah jatuh dari peterangan. Pecah. Bukan telur yang salah” (Pramoedya, 2011:132). Nyai regard, it has been finished with the problems between her parents.
While the Immoral Values are showed from the quote when Magda peters was driven out by Government. “Akhirnya benar juga desas-desus itu. Pemerintah secara licik mengusir Magda Peters, walaupun dengan cara tak lansung dari Hindia. …” (Pramoedya, 2011:474) but Pramoedya wrote the implicit values that is moral value which told us that the Government must be fair toward human. Minke as a main character really commanded respect to Magda Peters as his teacher.
The other quotes about immoral values is “Ir. Maurits dan ibunya, bagaimanapun memang beralasan mendendam Herman Mellema. Apa kemudian nyatanya? Mereka tidak mendendam harta peninggalannya, bahkan menginginkan seutuhnya tanpa satu sen pun boleh lolos. Jadi: pada dasarnya mereka sudah mengharapkan kematian papa Annelies. Mereka sudah menyertai dan membenarkan perbuatan Ah Tjong dalam batin mereka. …” (Pramoedya, 2011:495)
All of them is the moral choice and immoral values that belonging to Praise and Blame or Virtuous and Vice. Humanityn values, is reflected in the characters attempt to sue disparities humanity meets, also in his efforts to restore the dignity of humanity. Last word from Pramoedya Ananta Toer “Kita kalah, Ma,” “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.


Reference:
Toer, Pramoedya Ananta. Bumi Manusia. 2011. Jakarta Timur: Lentera Dipantara.
Kaswardi. 1993. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta: Grasindo.

Linda. Eyre, Richard. 1997. Mengajarkan Nilai-Nilai Kepada Anak. Jakarta:
Gramedia.

Nurrachman, Dian. 2014. Classical Critical Theory: From Ancient Greek to Victorian England. Bandung: Pustaka Aura Semesta.

Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.