Rabu, 22 Maret 2017

Naskah Drama PPL



Dua Kutub Yang Sama Tidak Akan Pernah Bersatu
Oleh: Novia Laras Ayuning Tias
Tokoh:
Rayanti Ahmad/Raya (Kekasih Meidi-Tunangan Iqbal)
Meidi (Kekasih Raya)
Iqbal (Tunangan Raya)
Ahmad (Ayah Raya)
Latifah (Ibu Raya)
Pengurus WO


Adegan I
Cafeteria sebuah gedung perkantoran di wilayah Jakarta dipenuhi nyawa-nyawa kelaparan di jam makan siang sedang berebut tempat duduk.
 Di pojokan tempat duduk Cafeteria terdapat seorang perempuan pemilik wajah yang cantik melambaikan tangan ke arah wanita tinggi yang ada di seberangnya dengan dibalut pakaian kantornya.
Meidi: Ray! Raya! Hey, di sini. (Raya menghampiri, kemudian duduk didepannya). Aku udah ambilin makanan buat kamu.
Raya: Terimakasih. Ada apa, Di? (lalu menyesap minuman yang telah disediakan Meidi).
Meidi: Ada apa, apanya?
Raya: Ya, ada apa kamu kemari?
Meidi: kenapa ada apa? Biasanya juga aku kemari menemui mu. (sedetik ia menghembuskan nafas, tak percaya atas yg diungkapkan Raya). Apa dia ada di sisni?
Raya: Siapa? (Matanya tak luput untuk melirik arloji yang ada di tangannya. Wajahnya gelisah.)
Meidi: Ada Apa denganmu, Hon? Siapa? Aku Tanya, apa dia ada di sini? Seharusnya kau tahu, yang kumaksud adalah CALON SUAMIMU, hahaha (Meidi tertawa sumbang).
Raya: Maaf, tadi aku tak tahu maksud kamu menanyakan Iqbal. Emmm, apa kamu datang kemari hanya untuk menanyakan itu?
Meidi: Tentu tidak. Aku merindukanmu, Hon. (seraya merentengkan tangan member pelukan).
Raya: Isssh.. Dua hari lalu, kita bertemu, di.
Meidi: Kamu gak bisa diajak romatis Raya. (hening) Raya, Kita ini apa?
Raya: (Raya mendongakkan kepalanya untuk melihat wanita yang berada dihadapannya). Aapanya? Kita ini makhluk, Meidi.
Meidi: hah… Makhluk tak berakal, kah?
Raya: kebalikan dari binatang berakal. (masih sesekali melihat ke arah jam tanannya). Aku pergi dulu, Terimakasih atas semuanya hari ini.
Meidi: Kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Hah. Raya.. Raya. (Meidi membenarkan posisi duduknya yang semula tegap menjadi senderan dan menyilankan kedua tanannya di dada).

Adegan II
Malam hari di kediaman Ahmad penuh denan berbagai pendapat tentang pelaksanaan pernikahan.
Raya: Gak usah deh segala di gedung. Rumah kita saja masih luas.
Ahmad: Ini pernikahan kamu, bagaimanapun hanya untuk satu kali. Jadi harus sepesial Rayanti. (suaranya sedikit menggeram)
Iqbal: Iya sayang, lagian aku sanggup kok untuk masalah biaya.
Raya: Justru yang namanya sepesial dan untuk satu kali, kenapa gak gunain momen sacral itu di rumah kita sendiri. (tatapannya masih datar. Tidak ada rasa sejuk di matanya).
(lalu muncul wanita pertengahan 50an membawwa baki berisikan gelas-gelas terisi minuman denan wajah tak bersahabatnya)
Latifah: Sudahlah, anak tak tahu diri ini memang tak ingin menikah. Dia berargumen seperti itu hanya untuk mengulur waktu untuk tidak menikah. Semua persiapan yang sudah kita persiapkan pun ia bantah. Ini loah itu lah. Sebenarnya kemauannya hanya untuk menunda waktu agar dia masih bisa bersenang-senang dengan pasangan lesbinya. Anak hina yang merubah sikapnya 5 tahun terakhir. (tak ada tatapan persahabatan antara ibu dan anak tersebut).
Raya: CUKUP!!! (Teriaknya seraya menebrak meja di ruanan itu). Aku ke kamar dulu. (belum selangkah, tangannya telah dicekal oleh Iqbal).
Iqbal: Tunggu, Ray. (Raya pun duduk kembali). Bu, jangan terlalu membentak
Latifa: Anak itu sudah belok, Iqbal. Calon istrimu itu sakit.
Raya: jangan bawa-bawa belok atau nggak bu. Jangan bilang kalau aku mengundur-ngundur waktu pernikahan, bu. Sama sekali tidak. ibu Cuma bisa marah, gak tahu apa yang sebenarnya.
Latifah: Apa yang sebenarnya? Kamu menjalin kasih dengan sesamamu. Anak hina itu yang sudah merubahmu. Ada laki-laki yang mencintaimu, mengapa dengan denganmu?
Ahmad: Kau tak seharusnya bisa menjalin kasih denan sesama jenismu. Agama kita tidak menganjurkan sesuatu yang seperti itu. Ayah bahkan sempat membecimu, nak.
Raya: Ya!!!! Semuanya memang membenciku. Ayah, Ibu dan Kau! Kau berpura-pura bukan? (Raya berteriak, menunjuk wajah-wajah di depannya). Kalian semua tidak tahu apa yan selama ini mungkin terjadi. Aku, aku yang selama ini menjerat Meidi dalam lubang kegelapan ini. Bukan dia.
Ahmad: Jangan melindungi anak itu di depan kami, Raya. Atau kau akan sama hina nya denan dia. (Ahmad mulai berbicara dengan nada tinggi).
Raya: Maaf, Aku permisi. (lalu ia melangkah menuju kamarnya).

Adegan III
Suasana Cafeteria di Jam makan siang tetap beratmosfer seperti biasanya. Di sana Meidi yang seperti biasanya sedang menunggu sang pujaan hati yang sedikit agak lama untuk datang. Hinga terlihatlah wanita denan rambut dicepol dengan blazer biru dongker yan melekat di tubuhnya menyampaikan kesan elegan untuk diketahui ialah Raya yang sedang ditunggunya.
Raya:  Sorry. Lama, Di.
Meidi: it’s okay, Hon.
(beberapa lama tak ada pembicaraan)
Raya: seminggu lagi aku akan menikah.
Meidi: yeah, I know. Aku tahu, Ray. So, kita apa?
Raya:  Kita tetap seperti ini, Di. Tapi, untuk beberapa waktu aku ingin kita mengambil jarak.
Meidi:  seperti ini? Aku yang akan selalu disebut hina? Aku pikir kamu lebih dewasa dari aku, Ray. Ternyata hanya umur mu saja yang lebih dari aku.
Raya: Apa maksudmu?
Meidi:  Maksud aku? Oh, ayolah, Ray. Selama ini kamu hanya menyembunyikan identitas kita sebaai oran yang memiliki permasalahan sexual. Show it. We must show what happened with us. Tunjukin, Ray. Kalau kita membutuhkan dorongan untuk ini, bukan cemoohan yang dilakukan keluargamu. Mereka tahu dengan sendirinya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seharusnya sebelum kamu membawa aku dalam hal ini kamu ceritakan tentang yan sebenarnya kamu alami. Tentang penyimpangan sexual kamu. (tak ada nada tinggi yang keluar dari ucapan Meidi, pembicaraannya lebih terkesan datar).
Raya: Meidi!! Ini Indonesia bukan Western. Orang-orang bahkan akan menganggap gila, lebih dari orang tuaku. Jadi, kau menyesal telah menjalin kasih denganku? Atau kau menyesal telah ku buat jatuh hati?
Meidi: Tidak semua orang akan beranggapan seperti itu. Jika kau menyangka aku menyesal maka jawabannya tidak. tidak sama sekali. Aku sangat-sangat mencintaimu. Malah aku menyangka kau sudah tidak mencintaiku karena mungkin kau sudah kembali ke kodratmu dengan menikah dengan seorang pria. (ia menghela nafas). Lantas aku yang mencintaimu masih tetap menerima cemoohan dari keluargamu karena kau yang memang tidak pernah menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Terutama siapa yang memulai dan mengajak untuk hubungan ini.
Raya: Kau salah, Di. Bukan aku tidak berusaha menjelaskan, aku sudah menjelaskan tentang apa yang terjadi, tentang siapa yang sebenarnya hina. Mereka tetap berangapan sama, Di. Yan mereka sangka aku hanya mencari akar masalah baru untuk mengundur waktu pernikahanku.
Meidi: Karena kau bicara diwaktu yang tidak tepat. Kau bicara seperti itu saat dalam keadaan tertekan bukan dalam keadaan santai. Jadi pantas saja seperti itu!
(tiba-tiba dari kejauhan datang seoran wanita muda dengan map ditangan)
Pengurus WO: Maaf, Bu. Saya tadi selesai bertemu dengan Pak Iqbal lalu beliau membawa saya kemari dan menyuruh saya untuk membicarakan masalah gedung dan semuanya.
(Raya melirik keaarah Meidi, ia tak enak hati karena permasalahannya belum selesai).
Meidi: Lanjutkan. Aku permisi, Ray. (kemudian Meidi pergi meningalkan Cafeteria tempat Raya bekerja).
Raya: (Raya masih menatap kepergian Meidi, sbelum akhirnya sadar ada seseorang berdiri di sampIng meja). Emmm… mari mbak, duduk. (seulas senyum terpancar dengan terpaksa)
Pengurus WO: iya, Bu. Terimakasih.
Raya: Ya. Bisa di mulai.
Pengurus WO: Baik, Bu. Jadi, tadi saya bertemu dengan bapak, dia menyarankan agar pada saat akad dilakukan di masjid At-tin, dan untuk resepsi akan dilakukan di sebuah Hotel masih di Jakarta Timur. Tapi tadi bapak menyarankan agar saya bicara langsung dengan ibu untuk persetujuannya.
Raya: Tolong batalkan, mbak. Saya ingin semuanya dilaksanakan di rumah.
Pengurus WO: Tapi, Bu. Tadi bapak bilang hanya ibu harus menyetujuinya saja.
Raya: Saya bilang batalkan. Mbak bisa kan untuk handle semua itu? Saya hanya minta di rumah.
Pengurus WO: I.. Iya baik, Bu. Kalau begitu saya permisi, Bu.
Raya: Iya, Terimakasih sebelumnya.
(Kemudian Wanita itu pergi dengan rasa sedikit takut setelah bertemu dengan klien nya).


Adegan IV

Suasana kediaman Ahmad tak seperti biasanya, penuh dengan rasa permusuhan yang tinggi. Pembicaraan mengenai pernikahan putrinya semakin membuat seisi rumah dilanda emosi.
Ahmad: Jadi, kau tetap ingin melaksanakan semuanya di rumah?
Raya: Ya. Itupun saya akan memberikan syarat sebagai keringanan untuk mempermudah kemauan saya untuk diterima anda.
Ahmad: Apa itu?
Raya: Oke, jika anda tetap ingin saya melaksanakan pernikahan denan segala kemewahan dengan gedung yang mewah maka setelah menikah saya akan tetap ‘berhubungan’ dengan Meidi. Lalu, jika anda ingin saya untuk tidak berhubungan denan Meidi, maka turuti kemauan saya sebagai anak kesayangan Anda… (Raya menggantung kata-katanya)
Ahmad: Baiklah, katakana.!
Raya: Baik… Saya tidak akan berhubungan dengan Meidi dan akan melaksanakan pernikahan, tetapi …. (ia berdehem sebentar). Tetapi tidak saat ini dan biarkan saya memilih untuk mencari calon suami sendiri. Apa anda sanggup melaksanakan syarat saya sebagai Ayah?
Iqbal: APA???? Aku mencintaimu. Aku sudah meneluarkan uang banyak untuk ini semua, Raya.
Latifah: Apa kau gila? Kau ingin membuat orangtuamu malu setenah mati dengan pembatalan pernikahan ini?
Raya: Aku hanya menyediakan pilihan. Jika kalian sanggup kalian boleh menurutiku. Jika tidak, maka saya tetap bersama Meidi. Dan lihat iqbal, apa dia ikhlas selama ini memberikan bantuan dalam rencana pernikahan ini? Hah..
Latifah: Kau anak tak tau diuntung. Sudah ada yang mau malah mengulur-ulur waktu demi pasangan sejenismu. Kurang ajar. (kemudian terdenGar suara tamparan dan diikuti suara doronan keras dari arah pintu. Meidi datan ke kediaman Ahmad).
Meidi: CUKUP!!! Saya sudah dengar dengan semua pembicaraan kalian. Saya akan tetap menjalin kasih dengan Raya. Karena Dia adalah orang yang telah merubah orientasi sexual saya. Dia yang mengajarkan saya arti dari cemoohan yang seperti angin lalu seperti yang anda lontarkan. Maka apapun yang anda lakukan terhadap kami, kami akan tetap bersatu.
Latifah: Kurang ajar. Kau anak hina, kau yang merubah anakku dank kau malah menyalahkannya? Lesbian. Kau yang membuat anakku menjadi pembangkang seperti ini.
Raya: CUKUP!! Saya sudah mengatakan bahwa saya yan telah merubahnya bukan dia. Jangan sebut dia hina di depan mata saya karena anda terlalu hina untuk menjadi Ibu.
Latifah: Kau hanya selalu membelanya. Kau kotor. Kau melenceng dari Agama, kau tak bermoral.
Ahmad: Baik. Cukup semuanya. Ayah akan menambil keputusan. Ayah akan mengizinkan kamu untuk mencari calon suami untuk kau nikahi, dank kau harus meninggalkan pasangan lesbianmu!!. (katanya penuh denan penekannan).
Iqbal: Apa? Apa semuanya telah dipikirkan matang-matang, apa keluarga kalian tidak akan malu?
Ahmad: Semua keputusan akhir ada pada Raya, saya hanya tidak mau anak saya melenceng dari aturan agama dan moral. Bagaimana, Raya?
Raya: Baiklah… saya akan meningalkan meidi dan tidak akan berhubungan denannya jika itu memang yang kalian Harapkan. Tapi asal kalian tahu, kami pun menderita. Sebenarnya kamu hanya butuh dorongan agar kami bisa hidup normal, karena jika hanya dengan cemoohan dan kekangan itu sia-sia bahkan mungkin malah berdampak buruk bagi yang mengalami.
Ahmad: Kami bukan mengekang hanya saja kami tidak ingin putrid kamu keluar dari aturan agama. Dua kutub yang sama tidak akan pernah bersatu. Dua pasan magnet dengan kutub yang sama pun akan saling menolak. Begitupun manusia. Karena Tuhan telah menciptakannya berpasang-pasangan. Laki-laki denan Perempuan, mengerti nak? Jadi keputusanmu harus kau perjelas. Karena pasanganmu bukan dengan perempuan juga.
Raya: Ya. Saya ulangi, bahwa saya akan meninggalkan Meidi dan berhenti berhubungan dengannya. Juga sebagai pengganti rasa malu keluarga, saya akan mencari calon suami sendiri, tetapi bukan dengan Iqbal.
Meidi: (Meidi terbengong dengan semua keputusan yang Raya lontarkan). Ta..tapi.. Ray, mana janjimu akan memperjuangkan hak kita? Aku mencintaimu, Ray, mana tanggung Jawabmu? Kau yang telah merubah orientasi sexualku. Ray.. Raya.. (air mata mulai merembes di pelupuk mata Meidi).
Raya: Tanggung jawabku adalah mengembalikanmu ke keadaan sebelum kita bertemu. Carilah pasanganmu. Maafkan Aku, Meidi. Aku menyayangimu. (Raya kemudian berlari menuju kamarnya dengan airmata yang menggenang mulai menetes).


--- SELESAI ---







Tidak ada komentar:

Posting Komentar