Dua Kutub Yang Sama Tidak Akan
Pernah Bersatu
Oleh: Novia Laras Ayuning Tias
Tokoh:
Rayanti Ahmad/Raya (Kekasih
Meidi-Tunangan Iqbal)
Meidi (Kekasih Raya)
Iqbal (Tunangan Raya)
Ahmad (Ayah Raya)
Latifah (Ibu Raya)
Pengurus WO
Adegan I
Cafeteria sebuah gedung perkantoran di wilayah
Jakarta dipenuhi nyawa-nyawa kelaparan di jam makan siang sedang berebut tempat
duduk.
Di
pojokan tempat duduk Cafeteria terdapat seorang perempuan pemilik wajah yang
cantik melambaikan tangan ke arah wanita tinggi yang ada di seberangnya dengan
dibalut pakaian kantornya.
Meidi:
Ray! Raya! Hey, di sini. (Raya
menghampiri, kemudian duduk didepannya). Aku udah ambilin
makanan buat kamu.
Raya:
Terimakasih. Ada apa, Di? (lalu
menyesap minuman yang telah disediakan Meidi).
Meidi:
Ada apa, apanya?
Raya:
Ya, ada apa kamu kemari?
Meidi:
kenapa ada apa? Biasanya juga aku kemari menemui mu. (sedetik ia menghembuskan nafas, tak percaya
atas yg diungkapkan Raya). Apa dia ada di sisni?
Raya:
Siapa? (Matanya tak luput untuk
melirik arloji yang ada di tangannya. Wajahnya gelisah.)
Meidi:
Ada Apa denganmu, Hon? Siapa? Aku Tanya, apa dia ada di sini? Seharusnya kau
tahu, yang kumaksud adalah CALON SUAMIMU, hahaha (Meidi
tertawa sumbang).
Raya:
Maaf, tadi aku tak tahu maksud kamu menanyakan Iqbal. Emmm, apa kamu datang
kemari hanya untuk menanyakan itu?
Meidi:
Tentu tidak. Aku merindukanmu, Hon. (seraya
merentengkan tangan member pelukan).
Raya:
Isssh.. Dua hari lalu, kita bertemu, di.
Meidi:
Kamu gak bisa diajak romatis Raya. (hening)
Raya, Kita ini apa?
Raya:
(Raya mendongakkan kepalanya untuk
melihat wanita yang berada dihadapannya). Aapanya? Kita ini
makhluk, Meidi.
Meidi:
hah… Makhluk tak berakal, kah?
Raya:
kebalikan dari binatang berakal. (masih
sesekali melihat ke arah jam tanannya). Aku pergi dulu,
Terimakasih atas semuanya hari ini.
Meidi:
Kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Hah. Raya.. Raya. (Meidi membenarkan posisi
duduknya yang semula tegap menjadi senderan dan menyilankan kedua tanannya di
dada).
Adegan II
Malam hari di kediaman Ahmad penuh denan
berbagai pendapat tentang pelaksanaan pernikahan.
Raya:
Gak usah deh segala di gedung. Rumah kita saja masih luas.
Ahmad:
Ini pernikahan kamu, bagaimanapun hanya untuk satu kali. Jadi harus sepesial
Rayanti. (suaranya sedikit menggeram)
Iqbal:
Iya sayang, lagian aku sanggup kok untuk masalah biaya.
Raya:
Justru yang namanya sepesial dan untuk satu kali, kenapa gak gunain momen
sacral itu di rumah kita sendiri. (tatapannya
masih datar. Tidak ada rasa sejuk di matanya).
(lalu muncul wanita pertengahan 50an membawwa
baki berisikan gelas-gelas terisi minuman denan wajah tak bersahabatnya)
Latifah:
Sudahlah, anak tak tahu diri ini memang tak ingin menikah. Dia berargumen
seperti itu hanya untuk mengulur waktu untuk tidak menikah. Semua persiapan
yang sudah kita persiapkan pun ia bantah. Ini loah itu lah. Sebenarnya
kemauannya hanya untuk menunda waktu agar dia masih bisa bersenang-senang
dengan pasangan lesbinya. Anak hina yang merubah sikapnya 5 tahun terakhir. (tak ada tatapan persahabatan antara ibu dan
anak tersebut).
Raya:
CUKUP!!! (Teriaknya seraya menebrak
meja di ruanan itu). Aku ke kamar dulu. (belum selangkah, tangannya telah dicekal oleh
Iqbal).
Iqbal:
Tunggu, Ray. (Raya pun
duduk kembali). Bu, jangan terlalu membentak
Latifa:
Anak itu sudah belok, Iqbal. Calon istrimu itu sakit.
Raya:
jangan bawa-bawa belok atau nggak bu. Jangan bilang kalau aku mengundur-ngundur
waktu pernikahan, bu. Sama sekali tidak. ibu Cuma bisa marah, gak tahu apa yang
sebenarnya.
Latifah:
Apa yang sebenarnya? Kamu menjalin kasih dengan sesamamu. Anak hina itu yang
sudah merubahmu. Ada laki-laki yang mencintaimu, mengapa dengan denganmu?
Ahmad: Kau
tak seharusnya bisa menjalin kasih denan sesama jenismu. Agama kita tidak menganjurkan
sesuatu yang seperti itu. Ayah bahkan sempat membecimu, nak.
Raya: Ya!!!!
Semuanya memang membenciku. Ayah, Ibu dan Kau! Kau berpura-pura bukan? (Raya berteriak, menunjuk wajah-wajah di
depannya). Kalian semua tidak tahu apa yan selama ini
mungkin terjadi. Aku, aku yang selama ini menjerat Meidi dalam lubang kegelapan
ini. Bukan dia.
Ahmad: Jangan
melindungi anak itu di depan kami, Raya. Atau kau akan sama hina nya denan dia.
(Ahmad mulai berbicara dengan nada
tinggi).
Raya: Maaf,
Aku permisi. (lalu ia
melangkah menuju kamarnya).
Adegan III
Suasana Cafeteria di Jam makan siang tetap
beratmosfer seperti biasanya. Di sana Meidi yang seperti biasanya sedang
menunggu sang pujaan hati yang sedikit agak lama untuk datang. Hinga
terlihatlah wanita denan rambut dicepol dengan blazer biru dongker yan melekat
di tubuhnya menyampaikan kesan elegan untuk diketahui ialah Raya yang sedang
ditunggunya.
Raya: Sorry. Lama, Di.
Meidi: it’s
okay, Hon.
(beberapa lama tak ada pembicaraan)
Raya: seminggu
lagi aku akan menikah.
Meidi: yeah,
I know. Aku tahu, Ray. So, kita apa?
Raya: Kita tetap seperti ini, Di. Tapi, untuk
beberapa waktu aku ingin kita mengambil jarak.
Meidi: seperti ini? Aku yang akan selalu disebut
hina? Aku pikir kamu lebih dewasa dari aku, Ray. Ternyata hanya umur mu saja
yang lebih dari aku.
Raya: Apa
maksudmu?
Meidi: Maksud aku? Oh, ayolah, Ray. Selama ini kamu
hanya menyembunyikan identitas kita sebaai oran yang memiliki permasalahan
sexual. Show it. We must show what happened with us. Tunjukin, Ray. Kalau kita
membutuhkan dorongan untuk ini, bukan cemoohan yang dilakukan keluargamu.
Mereka tahu dengan sendirinya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Seharusnya sebelum kamu membawa aku dalam hal ini kamu ceritakan tentang yan
sebenarnya kamu alami. Tentang penyimpangan sexual kamu. (tak ada nada tinggi yang keluar dari ucapan
Meidi, pembicaraannya lebih terkesan datar).
Raya: Meidi!!
Ini Indonesia bukan Western. Orang-orang bahkan akan menganggap gila, lebih
dari orang tuaku. Jadi, kau menyesal telah menjalin kasih denganku? Atau kau
menyesal telah ku buat jatuh hati?
Meidi: Tidak
semua orang akan beranggapan seperti itu. Jika kau menyangka aku menyesal maka
jawabannya tidak. tidak sama sekali. Aku sangat-sangat mencintaimu. Malah aku
menyangka kau sudah tidak mencintaiku karena mungkin kau sudah kembali ke
kodratmu dengan menikah dengan seorang pria. (ia
menghela nafas). Lantas aku yang mencintaimu masih
tetap menerima cemoohan dari keluargamu karena kau yang memang tidak pernah
menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Terutama
siapa yang memulai dan mengajak untuk hubungan ini.
Raya: Kau
salah, Di. Bukan aku tidak berusaha menjelaskan, aku sudah menjelaskan tentang
apa yang terjadi, tentang siapa yang sebenarnya hina. Mereka tetap berangapan
sama, Di. Yan mereka sangka aku hanya mencari akar masalah baru untuk mengundur
waktu pernikahanku.
Meidi: Karena
kau bicara diwaktu yang tidak tepat. Kau bicara seperti itu saat dalam keadaan
tertekan bukan dalam keadaan santai. Jadi pantas saja seperti itu!
(tiba-tiba
dari kejauhan datang seoran wanita muda dengan map ditangan)
Pengurus WO: Maaf,
Bu. Saya tadi selesai bertemu dengan Pak Iqbal lalu beliau membawa saya kemari
dan menyuruh saya untuk membicarakan masalah gedung dan semuanya.
(Raya melirik keaarah Meidi, ia tak enak hati
karena permasalahannya belum selesai).
Meidi: Lanjutkan.
Aku permisi, Ray. (kemudian
Meidi pergi meningalkan Cafeteria tempat Raya bekerja).
Raya: (Raya masih menatap kepergian Meidi, sbelum
akhirnya sadar ada seseorang berdiri di sampIng meja).
Emmm… mari mbak, duduk. (seulas
senyum terpancar dengan terpaksa)
Pengurus WO: iya,
Bu. Terimakasih.
Raya: Ya.
Bisa di mulai.
Pengurus WO: Baik,
Bu. Jadi, tadi saya bertemu dengan bapak, dia menyarankan agar pada saat akad
dilakukan di masjid At-tin, dan untuk resepsi akan dilakukan di sebuah Hotel
masih di Jakarta Timur. Tapi tadi bapak menyarankan agar saya bicara langsung
dengan ibu untuk persetujuannya.
Raya: Tolong
batalkan, mbak. Saya ingin semuanya dilaksanakan di rumah.
Pengurus WO: Tapi,
Bu. Tadi bapak bilang hanya ibu harus menyetujuinya saja.
Raya: Saya
bilang batalkan. Mbak bisa kan untuk handle semua itu? Saya hanya minta di
rumah.
Pengurus WO: I..
Iya baik, Bu. Kalau begitu saya permisi, Bu.
Raya: Iya,
Terimakasih sebelumnya.
(Kemudian Wanita itu pergi dengan rasa sedikit
takut setelah bertemu dengan klien nya).
Adegan IV
Suasana
kediaman Ahmad tak seperti biasanya, penuh dengan rasa permusuhan yang tinggi.
Pembicaraan mengenai pernikahan putrinya semakin membuat seisi rumah dilanda
emosi.
Ahmad: Jadi,
kau tetap ingin melaksanakan semuanya di rumah?
Raya: Ya.
Itupun saya akan memberikan syarat sebagai keringanan untuk mempermudah kemauan
saya untuk diterima anda.
Ahmad: Apa
itu?
Raya: Oke,
jika anda tetap ingin saya melaksanakan pernikahan denan segala kemewahan
dengan gedung yang mewah maka setelah menikah saya akan tetap ‘berhubungan’
dengan Meidi. Lalu, jika anda ingin saya untuk tidak berhubungan denan Meidi,
maka turuti kemauan saya sebagai anak kesayangan Anda… (Raya menggantung kata-katanya)
Ahmad: Baiklah,
katakana.!
Raya: Baik…
Saya tidak akan berhubungan dengan Meidi dan akan melaksanakan pernikahan,
tetapi …. (ia berdehem
sebentar). Tetapi tidak saat ini dan biarkan saya memilih
untuk mencari calon suami sendiri. Apa anda sanggup melaksanakan syarat saya
sebagai Ayah?
Iqbal: APA????
Aku mencintaimu. Aku sudah meneluarkan uang banyak untuk ini semua, Raya.
Latifah: Apa
kau gila? Kau ingin membuat orangtuamu malu setenah mati dengan pembatalan
pernikahan ini?
Raya: Aku
hanya menyediakan pilihan. Jika kalian sanggup kalian boleh menurutiku. Jika
tidak, maka saya tetap bersama Meidi. Dan lihat iqbal, apa dia ikhlas selama
ini memberikan bantuan dalam rencana pernikahan ini? Hah..
Latifah: Kau
anak tak tau diuntung. Sudah ada yang mau malah mengulur-ulur waktu demi
pasangan sejenismu. Kurang ajar. (kemudian
terdenGar suara tamparan dan diikuti suara doronan keras dari arah pintu. Meidi
datan ke kediaman Ahmad).
Meidi: CUKUP!!!
Saya sudah dengar dengan semua pembicaraan kalian. Saya akan tetap menjalin
kasih dengan Raya. Karena Dia adalah orang yang telah merubah orientasi sexual
saya. Dia yang mengajarkan saya arti dari cemoohan yang seperti angin lalu
seperti yang anda lontarkan. Maka apapun yang anda lakukan terhadap kami, kami
akan tetap bersatu.
Latifah: Kurang
ajar. Kau anak hina, kau yang merubah anakku dank kau malah menyalahkannya?
Lesbian. Kau yang membuat anakku menjadi pembangkang seperti ini.
Raya: CUKUP!!
Saya sudah mengatakan bahwa saya yan telah merubahnya bukan dia. Jangan sebut
dia hina di depan mata saya karena anda terlalu hina untuk menjadi Ibu.
Latifah: Kau
hanya selalu membelanya. Kau kotor. Kau melenceng dari Agama, kau tak bermoral.
Ahmad: Baik.
Cukup semuanya. Ayah akan menambil keputusan. Ayah akan mengizinkan kamu untuk
mencari calon suami untuk kau nikahi, dank kau harus meninggalkan pasangan
lesbianmu!!. (katanya
penuh denan penekannan).
Iqbal: Apa?
Apa semuanya telah dipikirkan matang-matang, apa keluarga kalian tidak akan
malu?
Ahmad: Semua
keputusan akhir ada pada Raya, saya hanya tidak mau anak saya melenceng dari
aturan agama dan moral. Bagaimana, Raya?
Raya: Baiklah…
saya akan meningalkan meidi dan tidak akan berhubungan denannya jika itu memang
yang kalian Harapkan. Tapi asal kalian tahu, kami pun menderita. Sebenarnya
kamu hanya butuh dorongan agar kami bisa hidup normal, karena jika hanya dengan
cemoohan dan kekangan itu sia-sia bahkan mungkin malah berdampak buruk bagi
yang mengalami.
Ahmad: Kami
bukan mengekang hanya saja kami tidak ingin putrid kamu keluar dari aturan
agama. Dua kutub yang sama tidak akan pernah bersatu. Dua pasan magnet dengan
kutub yang sama pun akan saling menolak. Begitupun manusia. Karena Tuhan telah
menciptakannya berpasang-pasangan. Laki-laki denan Perempuan, mengerti nak?
Jadi keputusanmu harus kau perjelas. Karena pasanganmu bukan dengan perempuan
juga.
Raya: Ya.
Saya ulangi, bahwa saya akan meninggalkan Meidi dan berhenti berhubungan
dengannya. Juga sebagai pengganti rasa malu keluarga, saya akan mencari calon
suami sendiri, tetapi bukan dengan Iqbal.
Meidi: (Meidi terbengong dengan semua keputusan yang
Raya lontarkan). Ta..tapi.. Ray, mana janjimu akan
memperjuangkan hak kita? Aku mencintaimu, Ray, mana tanggung Jawabmu? Kau yang
telah merubah orientasi sexualku. Ray.. Raya.. (air
mata mulai merembes di pelupuk mata Meidi).
Raya: Tanggung
jawabku adalah mengembalikanmu ke keadaan sebelum kita bertemu. Carilah
pasanganmu. Maafkan Aku, Meidi. Aku menyayangimu. (Raya
kemudian berlari menuju kamarnya dengan airmata yang menggenang mulai menetes).
--- SELESAI ---